Opini
Home / Opini / Kritik: Dulu Dicari, Kini Dihindari

Kritik: Dulu Dicari, Kini Dihindari

Kritik yang dahulu disambut dengan diskusi kini disimpan sebagai catatan. Mereka yang pernah bersuara kritis tak lagi dilibatkan. Padahal di sanalah kualitas kepemimpinan diuji….

Bekasi, gpibwatch.id — Ada dua jenis manusia: yang bijaksana dan yang bebal. Keduanya sama-sama tidak sempurna dan sama-sama dapat melakukan kesalahan. Namun yang membedakan bukanlah pada kesalahannya, melainkan pada respons terhadap kesalahan itu.

Kedudukan sering kali membuat seseorang merasa tak tersentuh, seolah apa pun yang dilakukan tak boleh dipertanyakan. Tetapi Daud, raja besar yang disegani kawan maupun lawan, memberi teladan berbeda. Ketika ditegur dengan keras, meski teguran itu memalukan, ia tidak tersinggung, tidak marah, tidak membalas. Ia merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Belajar dari Daud, pertanyaannya bagi kita dalam pelayanan: bagaimana sikap kita ketika ditegur? Apakah kita mampu menahan amarah, menekan rasa sakit hati, dan menanggalkan gengsi? Ataukah kita justru menyimpan kebencian dan membangun jarak? Di situlah kebijaksanaan diuji.

Sering kali sebelum seseorang dipercaya memimpin, ia tampak rendah hati. Tujuan yang belum tercapai membuatnya ramah, terbuka, mudah berdialog, dan santun menerima kritik. Ia terlihat bijaksana, menunjukkan ciri pemimpin yang siap menerima perbedaan. Kritik dicari sebagai bahan pembelajaran; perbedaan dirangkul sebagai kekayaan bersama.

Sosio-Politik sebagai Teologi: Belajar dari Gunung Transfigurasi

Namun setelah terpilih, sebagian berubah. Kesombongan perlahan menggantikan kerendahan hati. Kritik yang dahulu disambut dengan diskusi kini disimpan sebagai catatan. Mereka yang pernah bersuara kritis tak lagi dilibatkan. Dalam dinamika kolektif kolegial, tidak jarang yang dikenal gemar mengkritik justru tersisih dari ruang kebersamaan. Padahal di sanalah kualitas kepemimpinan diuji.

Hanya pemimpin yang berjiwa besar dan berhati lapang yang sanggup merangkul mereka yang mengkritik dan mengoreksi. Sebab kritik yang jujur bukan ancaman, melainkan cermin. Dan realitas ini kerap terjadi dalam dinamika pelayanan bersama—ruang yang seharusnya menjunjung keterbukaan, kebersamaan, dan kejujuran sebagai napas pelayanan.

Keterbukaan adalah tanda kedewasaan rohani. Ia membuat kita bersedia mendengar, entah perkataan itu menyenangkan atau menyakitkan, disampaikan dengan hormat ataupun tidak. Orang bijaksana mempertimbangkan setiap masukan, seberapa pun tajamnya. Ia berani mengaku salah, rela meminta maaf, dan bersedia memperbaiki diri ketika keliru.

Sebab pada akhirnya, kebijaksanaan bukan soal jabatan. Ia adalah kerendahan hati untuk tetap belajar—bahkan dari mereka yang berbeda dengan kita. Terinspirasi dari tulisan di media digital dan dikembangkan oleh JP.

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat