Pak John harus selalu mengingatkan dan kritis kepada saya. Orang yang kritis justru adalah orang yang visioner. Kita harus mendukung perubahan. Kita harus berubah. Kita harus membuat terobosan. Kita harus selalu berjalan bersama—Sun-Hodos…..
Bekasi, gpibwatch.id – Siri’ na Pacce adalah falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar yang berarti malu dan solidaritas. Siri’ dimaknai sebagai rasa malu atau harga diri, sedangkan Pacce berarti empati dan solidaritas terhadap sesama. Bagi orang Bugis-Makassar, hidup tanpa Siri’ na Pacce adalah hidup tanpa arah dan tanpa kepedulian—sebuah tanda kehilangan martabat kemanusiaan.
Falsafah inilah yang dipegang teguh oleh Pdt. Ebser M. Lalenoh, atau yang akrab disapa Bung Ebser. “Budaya siri’ itu kuat,” ujarnya. “Kalau memang tidak bisa lebih baik, jangan. Mati saja toh. Tapi ini kekuatan kita. Budaya siri’ itu penting, mendorong kita supaya jangan bikin malu.”
Sebagai KMJ GPIB Menara Kasih Bekasi, Bung Ebser menyatakan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB – XXII. Dalam perjumpaannya dengan John Paulus di GPIB Sejahtera Bandung, 28 Oktober 2024, ia menegaskan pentingnya mengakhiri politik kedekatan dalam proses pemilihan:
“Dalam pemilihan MS GPIB – XXII nanti, saya berharap tidak ada lagi istilah kedekatan alumni, suku, atau kelompok lain. Kalau ini masih ada, kita tidak akan pernah maju.” Menurutnya, GPIB tidak boleh terjebak pada dikotomi generasi.

“Saya tidak melihat generasi A atau M. Mereka semua pendeta kita, toga putih kita, saudara kita. Memang masih ada tarik-menarik, tetapi bagi mereka yang ingin GPIB ini maju, kita harus mau melibatkan dan merangkul semua orang. Pemikiran tradisional tidak lagi cocok diterapkan dalam gereja Tuhan yang hidup di tengah kemajemukan kultur dan denominasi. Jangan merasa lebih kuat, lebih bisa, atau lebih memiliki kapasitas. Semua orang yang memenuhi persyaratan tata gereja tidak boleh diabaikan dan dihilangkan hak-haknya.”
Dalam semangat yang sama, Bung Ebser menempatkan kritik sebagai bagian yang sah dan penting dalam kehidupan bergereja. Kritik dipandang sebagai tanda kepedulian. Namun kepedulian itu hanya akan bermakna jika disertai dengan kesediaan untuk terlibat dan membantu kerja pelayanan, baik sebelum maupun sesudah proses pemilihan berlangsung. Gereja tidak dibangun hanya oleh suara yang mengoreksi, melainkan oleh hati dan tangan yang mau ikut memikul tanggung jawab bersama.
Lebih jauh, Bung Ebser menegaskan bahwa kritik tidak boleh diperlakukan sebagai musuh. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam gereja yang hidup dan berpikir. Yang perlu dihindari justru sikap saling memusuhi karena kritik, sebab permusuhan hanya akan merusak persekutuan dan melemahkan kerja bersama. Gereja bertumbuh bukan karena semua suara sama, melainkan karena perbedaan dikelola dengan kedewasaan, kasih, dan tanggung jawab.
Bung Ebser menegaskan bahwa memimpin gereja berarti memahami gereja. “GPIB harus kita pahami. Kalau tidak, kita akan seperti masuk hutan rimba. Pendeta-pendeta muda kita visioner, namun sering kali masih kurang keberanian untuk maju dan memperlihatkan jati diri sebagai pendeta GPIB. Padahal mereka adalah kekuatan yang dikaruniakan Tuhan. Saya akan backup mereka dalam semangat intergenerational. Mereka adalah sistem, dan di pundak serta bahu merekalah gereja ini harus dipikul.”
Ketika ditanya apakah dirinya sanggup membenahi GPIB ke depan, ia menjawab dengan tegas: “Kita harus berani melangkah dengan tuntunan kebenaran Firman Tuhan. Gereja ini tidak bisa dijalankan dengan sistem jasa. Kalau berbicara gereja, yang kita gunakan adalah ketaatan kepada Tuhan, kemurahan hati orang-orang yang melayani dan menyokong, serta kesediaan untuk menghilangkan kepentingan diri sendiri.”
Ia menegaskan perlunya perubahan yang radikal dalam semangat ugahari: “Kalau kita mengatakan ugahari, maka harus benar-benar sederhana, supaya tidak ada pemborosan. Dari situlah kita bisa berbuat banyak hal—mengubah cara berpikir dan melepaskan diri dari jerat kemewahan. Terkadang kita tersandera oleh kemewahan dan oleh pemberian orang. Tetapi saya sudah diproses, dan saya memilih total mengabdikan diri kepada Tuhan untuk GPIB.”Kepada John Paulus, Bung Ebser bahkan meminta agar dirinya terus diingatkan dan dikritisi: “Pak John harus selalu mengingatkan dan kritis kepada saya. Orang yang kritis justru adalah orang yang visioner. Kita harus mendukung perubahan. Kita harus berubah. Kita harus membuat terobosan. Kita harus selalu berjalan bersama—Sun-Hodos. Jangan hanya datang ketika butuh, ketika susah, baru memanggil. Lebih baik berjalan bersama terus-menerus, saling memberi saran, saling menjaga, dan saling mengawasi.”
Dan kini, buah dari integritas, ketulusan, serta semangat Siri’ na Pacce itu berwujud nyata. Pada 30 Oktober 2025, Bung Ebser resmi terpilih sebagai Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB – XXII. Memasuki hampir tiga bulan masa pelayanannya, arah kepemimpinan yang sejak awal ia suarakan kini mulai diuji dalam praksis: membangun kesepahaman, merangkul lintas generasi, menata gereja dengan integritas, kesederhanaan, dan keberanian untuk berubah.
Ia menutup refleksinya dengan satu penegasan yang merangkum seluruh visinya: “Kita harus membangun kesepahaman—bukan kesepahaman untuk kedudukan saya, tetapi kesepahaman untuk GPIB.” ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

