Jemaat bukan butuh konser narsis, melainkan musik yang menenangkan, meneguhkan, dan menghidupkan iman, tapi beranikah para calon berhenti meniup trompet diri sendiri…
Jakarta, gpibwatch.id – Saksofon, ciptaan Adolphe Sax, dikenal karena satu hal. Ia bisa membuat orang terhanyut. Nada-nadanya lembut, kadang lirih, kadang meledak penuh energi, tapi selalu indah karena tahu caranya menyatu dalam harmoni.
Tapi di panggung pemilihan Fungsionaris Majelis Sinode GPIB–XXII, mari jujur, adakah yang terdengar seperti saksofon? Atau yang kita dengar hanyalah konser gaduh penuh pemain yang masing-masing sibuk meniup ego, berebut sorotan, dan melupakan partitur bernama pelayanan?
Banyak yang berdiri gagah di mimbar seolah berkata, “Ini Aku, Ini Dadaku!”, seperti solois haus tepuk tangan. Padahal tanpa harmoni, suara lantang itu hanyalah teriakan kosong. Jemaat bukan butuh konser narsis, melainkan musik yang menenangkan, meneguhkan, dan menghidupkan iman.
Ironinya, panggung gereja kadang lebih riuh dari panggung politik. Semua ingin jadi konduktor, padahal orkestra butuh yang rela duduk di bangku pemain, bahkan sekadar memegang nada latar.
Kalau semua ingin solo, siapa yang mau jadi harmoni? Kalau semua ingin kursi depan, siapa yang rela duduk di bangku belakang?Saksofon mengajarkan musik indah lahir bukan dari ego, tapi dari kerendahan hati mengisi ruang kosong. Tanpa itu, yang ada hanyalah orkestra ambisi dan suara fals yang memekakkan telinga, tapi anehnya selalu diiringi tepuk tangan internal.
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar,“Adakah suara saksofon” tapi beranikah para calon berhenti meniup trompet diri sendiri, dan mulai memainkan harmoni Allah? ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

