Pantaskah aku memberi persembahan dari hasil korupsi? Dari hasil mencuri?
Jakarta, gpibwatch.id — Semua orang tahu bahwa uang itu penting. Setiap orang membutuhkan uang, bahkan menginginkannya. Uang luar biasa penting dalam kehidupan manusia, karena ia memiliki kekuatan yang dahsyat—kekuatan yang bisa bersifat konstruktif, namun juga destruktif.
Dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan, uang selalu membawa dampak. Ia bisa membangun, tetapi juga meruntuhkan. Uang memang mempermudah banyak hal. Uang memungkinkan kita melakukan banyak hal.
Namun pertanyaannya: bagaimana kita mendapatkannya? Apakah dengan langkah yang benar? Apakah dengan tangan yang bersih tak bernoda? Apakah uang itu sungguh hasil keringat dan kerja keras kita? Ataukah ia berasal dari gratifikasi, dari mengambil yang bukan milik kita, dari perbuatan curang, dari menindas, dari intimidasi karena kedudukan dan status?
Uang destruktif—uang hasil korupsi—adalah uang instan. Ia mudah didapat tanpa proses panjang, tanpa peluh dan kerja keras. Ia menyakitkan hati orang lain. Ia lahir dari tipu daya. Ia mungkin menyenangkan sesaat, tetapi berpotensi menghadirkan stres berkepanjangan, bahkan kegelisahan kronis ketika berhadapan dengan hukum dan nurani.
Bagaimana dalam konteks pelayanan? Jika dana hasil korupsi masuk ke dalam rumah Tuhan—rumah yang seharusnya steril dari tindakan tak terpuji dan tercela—layakkah itu? Bukankah kita harus mulai dari diri sendiri dan bertanya: pantaskah aku memberi persembahan dari hasil korupsi? Dari hasil mencuri?
Di satu sisi mungkin euforia meningkat. Kita disambut sebagai orang berwibawa, bermartabat, dianggap mampu menutup segala kekurangan pelayanan. Semuanya tampak indah. Namun bisa saja semuanya semu—topeng yang dipoles dengan kepalsuan, seakan-akan dana itu murni. Dan yang lebih berbahaya: ketika kita menikmati bersama, kita pun bisa jatuh bersama—dalam kebutaan integritas dan kebutaan moral.
Gunakanlah uang yang konstruktif—uang yang menghadirkan kedamaian dalam kehidupan dan pelayanan. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan akan diberkati, karena lahir dari proses dan ketekunan, bukan dari cara instan dan sesaat. Uang tidak ditempatkan di atas segala-galanya demi pujian dan kehormatan, melainkan digunakan secara pantas dan layak.
Melangkahlah dengan langkah yang benar. Berjalanlah sesuai lintasan yang seharusnya. Hasilkanlah sesuatu dengan cara yang elegan. Bangunlah karya pelayanan dalam koridor yang sehat. Sebab pelayanan yang didirikan dengan akal budi dan nalar yang sehat akan berdiri kokoh. Soli Deo Gloria./JP

