Opini
Home / Opini / Ketika Roh Kompromi Bergentayangan di PSR – XXII

Ketika Roh Kompromi Bergentayangan di PSR – XXII

Apakah kita memilih yang berkualitas, berintegritas, dan takut akan Tuhan, atau hasil konspirasi antara roh kompromi dan ambisi?

Makassar, gpibwatch.id – Ada manusia bergentayangan di PSR – XXII, mencari mangsa untuk diajak kompromi — kompromi ambisi, kompromi manipulatif, kompromi egosentris, dan kompromi tukar guling jabatan.

Mereka terbang ke sana kemari tanpa isi perut, mengitari ruang oval dan ballroom, mencari nadi-nadi lemah yang mudah kolaps dan gampang terhasut. Mereka mengajak bersinergi sesaat, berkolaborasi tingkat langit — operasi senyap yang nyaris tak terdengar di tengah hujan lebat. Bisikan-bisikan halus itu terdengar seperti doa, tapi beraroma transaksi.

Menjelang pemilihan Majelis Sinode pada PSR – XXII, roh kompromi tampak riang menari di antara meja-meja perjamuan. Ada roh rohani dan ada roh jasmani — dua sisi dari satu ambisi.

Keduanya menggoda sukma sanubari dengan bibir berkilau ditindik berlian dan kata-kata yang meyakinkan. Roh rohani memakai ayat dengan lembut, menutup kalimatnya dengan doa yang terdengar suci — namun sesungguhnya sarat strategi suksesi.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Sedangkan roh jasmani adalah perpanjangannya: mengatur pertemuan, nongkrong kopi pahit, makan steak, kacang merah, dan breakfast pastry. Bahkan mungkin mengajak pemilih setia yang mulai katarak nurani untuk “rekreasi rohani” ke destinasi mewah.

Dan kelak, hasil pemilihan Majelis Sinode akan menyingkap segalanya: Mana yang lahir dari kompromi sehat — hasil pergumulan iman dan integritas, dan mana yang tumbuh dari kompromi sesat, hasil kolaborasi sunyi antara roh rohani dan roh jasmani.

Kopi yang diseduh dari tangan berkualitas menghasilkan aroma jujur dan rasa yang berintegritas. Begitu pula Pesta Suksesi Majelis Sinode – XXII: Apakah kita memilih yang berkualitas, berintegritas, dan takut akan Tuhan, atau hasil konspirasi antara roh kompromi dan ambisi?

Roh kompromi tidak selalu tampak gelap. Kadang ia datang dalam bentuk senyum, jabatan, atau tawaran kerja sama. Semoga kita memilih bukan karena iming-iming, tetapi karena takut akan Tuhan. Karena hanya kopi integritas yang aromanya kekal.

Disclaimer: Narasi ini merupakan refleksi alegoris dan satir rohani dan tidak ditujukan kepada individu atau pihak tertentu. Makassar Pung Carita – Ewakomappakoe@gpibwatch.id / JP

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat