Kepemimpinan diuji bukan saat dipuji, tetapi saat dikritik….
Jakarta, gpibwatch.id — Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tetapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga kita tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.
Dalam kehidupan ini, tanpa sadar kita pun terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Dengki atau iri hati adalah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang dengki adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan atas keberhasilan orang lain. Yang seharusnya bergembira ketika teman atau saudara dalam pelayanan mengalami kesuksesan, kita malah mencurigai.
Kita berusaha agar orang tersebut tidak tampil atau muncul ke permukaan dengan segala keahliannya. Kita menjadi penghalang yang tersembunyi, bahkan mencari-cari kesalahannya, padahal tidak ada noda yang perlu dipermasalahkan.
Dengki dalam pelayanan juga bisa timbul saat kita dikritik mengenai prosedur dan tata kelola yang kita ambil. Kita marah, sehingga dengki berubah menjadi kemarahan tanpa dasar — kemarahan sinetron, kemarahan kamuflase.
Tanpa pikiran jernih, kita tidak menyadari bahwa tindakan yang diambil mungkin tidak melalui mekanisme yang ada. Kalaupun ada, hanya menjadi catatan di atas kertas. Karena jabatan dan kedudukan, semuanya kita iyakan dan aminkan. Karena faktor pertemanan, kedekatan, balas budi, bahkan mungkin pilih kasih.
Dengki yang terbalut kemarahan melahirkan tensi tinggi dan tuntutan klarifikasi kepada para pengkritik. Semuanya bertopeng, sambil mengumbar bahwa ini adalah “pembunuhan karakter”(character assassination). Akhirnya timbul dalam hati yang tersembunyi keinginan untuk balas dendam — dendam kesumat.
Topeng dalam pelayanan pun sering terjadi. Semangat aji mumpung dijalani.Tidak jujur pada diri sendiri, tidak jujur dalam prosedur. Yang penting semuanya terjadi dan terwujud. Biarlah saya buta dan tuli untuk sementara, mumpung saya yang berkuasa di jemaat ini.
Pertanyaannya, “Kok yang melamar lebih berkuasa?” Amazing — kepiting. Ini cermin, bukan tuduhan. Kutipan awal: Dr. Kasan Susilo. Pengembangan & refleksi: JP

