Opini
Home / Opini / Ketika Dusta Naik Mimbar

Ketika Dusta Naik Mimbar

Pembenaran sering kali menjadi barang mewah dengan harga yang sangat tinggi — terlebih ketika kita hidup dalam lingkungan perselingkuhan dosa, perselingkuhan pamrih, dan kebiasaan “take and give”. Lalu menukar yang kekal dengan secuil kenyamanan sesaat…

Jakarta, gpibwatch.id — Banyak orang tidak benar-benar mencari kebenaran — mereka hanya mencari pembenaran atas keyakinan yang sudah lama mereka peluk erat.

Kebenaran yang tulus sering datang seperti badai: merobek tirai kenyamanan, meruntuhkan ilusi yang dibangun dengan penuh cinta, dan memaksa kita menatap dunia tanpa topeng. Itulah sebabnya banyak orang memilih tetap tinggal dalam gelembung rapuh yang terasa aman, karena kebohongan yang manis sering lebih mudah diterima daripada kenyataan yang pahit.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, dilema itu datang begitu nyata. Di satu sisi, nurani ingin berkata jujur; di sisi lain, ada ketakutan akan kehilangan nafkah, posisi, atau kenyamanan yang selama ini menopang hidup. Kadang, keberanian untuk jujur terasa mahal — seolah harga kejujuran adalah penderitaan itu sendiri. Tapi di hadapan Allah, kejujuran bukanlah pilihan yang bisa ditawar; ia adalah tanda kesetiaan pada terang yang tidak mengenal kompromi.

Pembenaran sering kali menjadi barang mewah dengan harga yang sangat tinggi — terlebih ketika kita hidup dalam lingkungan perselingkuhan dosa, perselingkuhan pamrih, dan kebiasaan “take and give”. Kita terbiasa membenarkan diri karena ada upah yang dijanjikan, karena ada sesuatu yang ingin dipertahankan. Kita takut kehilangan yang fana, lalu tanpa sadar menukar yang kekal dengan secuil kenyamanan sesaat.

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Namun yang paling tragis adalah ketika pembenaran itu naik ke mimbar — ketika dusta tampil dengan jubah pelayanan, dan kepalsuan bersuara dengan nada rohani. Saat itu, kebenaran disingkirkan pelan-pelan atas nama hikmat, strategi, atau diplomasi gerejawi. Telinga rohani menjadi tuli, hati nurani pun kehilangan gema. Pelayanan berubah menjadi panggung sandiwara yang megah, sementara Tuhan duduk diam di sudut, menatap umat-Nya dengan sedih.

Tetapi satu hal pasti: kebenaran tidak pernah mati. Ia berjalan bersama waktu, menembus segala topeng — bahkan topeng yang berkilau seindah berlian. Pada akhirnya, pembenaran semu akan kehilangan napasnya; dusta akan runtuh oleh bobot kepalsuannya sendiri. Sebab yang fana takkan mampu menandingi yang kekal.

Dan ketika tirai akhirnya disingkapkan, hanya mereka yang berani berjalan di atas jalan kebenaranlah yang tetap berdiri tegak di hadapan Tuhan — meski mungkin tanpa jabatan, tanpa penghormatan, tapi dengan hati yang tidak berkhianat. “Sebab kebenaran tidak butuh panggung, ia hanya butuh ruang — di hati yang mau jujur.”

Catatan:Paragraf pembuka disadur dari refleksi di laman Tadarus Filsafat (Facebook), yang menginspirasi permenungan ini tentang kebenaran, pembenaran, dan integritas dalam pelayanan. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat