Hikmat yang sejati merupakan anugerah ilahi yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan,,
Jakarta, gpibwatch.id – Kepintaran bisa membuat orang hebat, tetapi hanya hikmat dari Tuhan yang membuat hidup benar dan berarti.
Hikmat, menurut para ahli biblika, bukan sekadar kepintaran manusia, melainkan anugerah Allah yang harus dicari dengan sungguh-sungguh seperti harta terpendam / Bruce Waltke – Tremper Longman III.
Inti hikmat adalah pengenalan akan Allah dan sikap takut akan Dia / Gerhard von Rad, sehingga bukan hanya memberi kecerdasan praktis, tetapi juga menuntun hidup kita dalam kebenaran dan moralitas yang tinggi.
Lebih dari itu, hikmat sejati selalu berdampak sosial, ia menolong kita bukan hanya untuk hidup baik secara pribadi, tetapi juga menjadi berkat bagi sesama / Michael V.Fox.
Di masa kini, kita bisa melihat banyak orang yang sangat cerdas, bahkan bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesalahan fatal, karena hanya mengandalkan pengetahuan, bukan hikmat.
Seorang pemimpin yang pandai berstrategi namun Korup, atau seorang profesional sukses yang hidup Egois tanpa peduli sesama, semua itu menunjukkan kepintaran tanpa hikmat, dan sebaliknya orang sederhana yang hidup takut akan Tuhan, rendah hati, dan rela berbagi kebaikan, justru memancarkan hikmat sejati.
Melansir laman Renungan Pagi SBU GPIB, 14 September 2025, Amsal 2 : 1-5,
bahwa pada dasarnya kita sepakat bahwa orang yang dikatakan pintar, menyangkut intelektual atau kemampuan seseorang mengetahui atau menguasai banyak informasi dari segi ilmu pengetahuan belum tentu seorang yang bijaksana.
Bijaksana berarti mampu mengolah setiap informasi dan bersikap kritis terhadap ilmu pengetahuan yang didapat, serta berusaha agar ilmu pengetahuan tersebut bisa berguna bagi orang lain dan dirinya, dan seorang yang bijaksana cenderung tidak sombong, rendah hati, dan suka membagikan pengetahuannya.
Penulis Amsal memaparkan bahwa hikmat juga harus diminta, dicari, dan dikejar , ibarat harta terpendam yang harus digali, namun pada masa kini harus diakui, bahwa tak banyak orang memahami bahwa hikmat itu penting.
Orang berpikir dan lebih menekankan pencapaian pengetahuan, kekayaan, atau prestasi, yang mungkin dapat memberi hikmat kepadanya, tetapi sebenarnya itu hanyalah hikmat semu, dan sesunguhnya Hikmat yang sejati merupakan anugerah ilahi yang diberikan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

