Marturia Opini
Home / Opini / Kenosis, Orientasi Hidup Allah

Kenosis, Orientasi Hidup Allah

Menderita adalah konsekuensi hidup yang diarahkan pada dunia dengan segala kerumitannya, Melalui kekosongan diri Allah, Kristus menjumpai manusia dan dunia dan merehabilitasi mereka,,

Jakarta, gpibwatch.id – Konsep kekosongan atau pengosongan diri tidak hanya di umat Kristen yang biasa disebut Kenosis, ada juga di umat Hindu yang disebut Moksa.

Moksa artinya  melepaskan keterikatan pada dunia (nafsu, harta, ego, penderitaan), yang dicapai melalui disiplin rohani yaitu yoga, meditasi, pengendalian diri dan pelepasan dari realitas dunia menuju kedamaian abadi, yang bertujuan agar jiwa (atman) bebas dari siklus kelahiran-ulang (samsara) dan bersatu dengan Brahman, realitas tertinggi.

Kenosis artinya pengosongan diri Kristus (Filipi 2:6–11). Kristus tidak mempertahankan hak dan kemuliaan-Nya sebagai Allah, melainkan menjadi manusia hina, bahkan mati di salib, dan keterlibatan penuh dalam realitas dunia dengan kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan, serta menyelamatkan manusia dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.

Mari cermati apa yang disampaikan Bung Domidoyo Ratupenu tentang konsep kekosongan lewat media sosial kepada Bung Frans Salempang dari gpibwatch.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Konsep kekosongan bukan hanya terdapat dalam ajaran Kristen. Kekosongan sudah dihayati oleh sebagian kepercayaan yang jauh lebih tua dari Yudaisme, yaitu Hindu.

Dalam Hindu Konsep Moksa adalah konsep kesempurnaan yang harus dilatih secara terus menerus lewat keheningan, meditasi, dan manusia mengalami “kosong”, ia keluar dari kenyataan hidup dan menyatu secara rohani dengan Sang Hyang Widi / Brahman. Tidak semua orang bisa melakukannya, hanya orang yang telah bersedia meninggalkan dunia.

Berbeda dengan Hindu, dalam Kristen konsep kekosongan bukanlah suatu keadaan dan cara hidup meninggalkan dunia untuk bersatu dengan Allah, sebagaimana terdapat dalam Filipi 2:1-11.

Melainkan lewat Kristus, justru kekosongan diwujudkan dengan cara tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan dan dengan menjadi manusia yang hina, berdosa, dan tercela.

Kekosongan adalah orientasi hidup yang mengabdi pada Bapa lewat kepedulian pada manusia dan dunia, dan konsekuensi kekosongan adalah derita yang justru dihindari Hindu lewat tapa.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Menderita adalah konsekuensi hidup yang diarahkan pada dunia dengan segala kerumitannya, sehingga dunia mengalami perjumpaan dengan Allah. Melalui kekosongan (pengosongan) diri Allah, Kristus menjumpai manusia dan dunia dan merehabilitasi mereka.

Orientasi hidup Allah dalam Kristus lewat hidup yang mendunia inilah yang menjadi spirit manusia Kristen untuk menghidupi dunia dan menyelamatkan dunia lewat kepedulian dan kerja keras memanusiakan dunia.

Tentu ini mengandaikan kebesaran hati untuk menerima derita sebagai konsekuensi hidup dari meneladani Allah yang telah mengosongkan diri-Nya demi hidup manusia dan dunianya. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP/fsp

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat