Para Kolusi dan Nepotisme ini tidak tahu malu. Bahkan tidak punya malu. Bagi mereka, yang penting kandidatnya duduk, walau harus menutup mata — katarak total, buta total, atau pura-pura buta….
Jakarta, gpibwatch.id – Tidak elok, tidak beretika, dan tidak bermoral jika ajakan memilih seseorang atau kelompok dilakukan dengan cara-cara terselubung. Iming-iming apa pun yang dijanjikan tak perlu direspons. Ini bukan panggung suci-sekuler, bukan pentas akbar duniawi. Ini adalah panggung panggilan pelayanan suci — untuk melayani, bukan dilayani.
Jangan biarkan mereka yang menghasut dan memprovokasi berkeliaran di arena pemilihan. Jangan beri ruang bagi mereka mengumbar hasrat sesat demi kepentingan sesaat. Dan yang terpenting, jangan terlibat dalam permainan para Kolusi, Katarak, dan Nepotisme yang bernafsu meloloskan kandidat jagoannya. Jangan, dan jangan!
Mereka hadir dengan wajah manis dan janji manis — tukar guling jabatan, kursi empuk, dan posisi strategis. Mereka berguling-guling di sofa menuju emeritasi, menikmati kenyamanan sementara, melupakan esensi panggilan sejati.
Para Kolusi dan Nepotisme ini tidak tahu malu. Bahkan tidak punya malu. Bagi mereka, yang penting kandidatnya duduk, walau harus menutup mata — katarak total, buta total, atau pura-pura buta. Janji mereka bukan janji iman, tapi janji sekuler penuh hasrat duniawi, demi kantong tebal dan jemaat yang “tidak kere”.
Jangan kaget, para KKN ini sudah melaju kencang. Mereka mungkin telah membentuk group chat, membangun jaringan dukungan, bahkan menebar pesan berantai. Mereka tahu: kekuasaan rohani pun bisa digoyang dengan strategi duniawi — bila hati para utusan tidak teguh.Maka, para utusan GPIB, beranilah berkata TIDAK kepada KKN. Jangan takut! Jangan takut dimutasi. Jangan takut di-parkir. Pilihlah pemimpin masa depan yang membawa pembaruan sejati — yang bersih rekam jejaknya, dan tidak berafiliasi dengan aroma busuk kolusi dan nepotisme.
Dan ketika pagi tiba, dengan secangkir espresso panas dan kicauan burung di udara Makassar, biarlah kita sadar — bahwa Sang KKN mungkin hadir, tapi tanpa kesadaran dosa kronisnya.
Namun kebenaran tidak akan pernah buta. Ia hanya menunggu yang berani berkata: “Tidak, aku tidak akan ikut dalam katarak moral itu.” ewako-mappkoe@gpibwatch.id / JP

