Gereja bukan panci, tetapi banyak pelayannya kini betah direbus. Mereka tak lagi berani melompat dari zona nyaman – keluar dari sistem busuk, keluar dari kursi yang membius.
Jakarta, gpibwatch.id – Seekor katak, bila dilempar ke air mendidih, akan segera melompat keluar. Tapi bila ia diletakkan di air hangat yang perlahan-lahan dipanaskan, ia akan tenang-tenang saja, menyesuaikan diri, hingga kehilangan tenaga dan mati perlahan dalam kenyamanan yang menipu.
Begitu pula gereja. Gereja tidak mati karena badai dunia, melainkan karena terlalu banyak katak yang betah duduk di kursi sinode. Mereka tidak melompat lagi. Tidak gelisah. Tidak menolak panas. Hanya tersenyum, menyesuaikan diri, dan perlahan-lahan matang di air politik yang memanas.
Di ruang sidang, kata pelayanan terdengar lembut, namun di balik meja, permainan berjalan rapi. Doa pembukaan hanyalah formalitas, karena keputusan sering sudah matang sebelum dibawa ke altar.
Kita lupa, Ulangan 23:19–20 bukan hanya bicara soal uang, melainkan soal moralitas di tengah persaudaraan. “Jangan menindas saudaramu demi keuntungan pribadi.” Namun justru itulah yang sering dilakukan —dengan senyum, dengan ayat, dengan jabatan.
Gereja bukan panci, tetapi banyak pelayannya kini betah direbus. Mereka tak lagi berani melompat dari zona nyaman, takut kehilangan kursi, suara, dan dukungan.
Lalu ketika air mendidih dan pelayanan mulai berasap, mereka bertanya, “Mengapa jemaat tak lagi hangat?” Padahal, hangat itu telah berubah menjadi panas, dan iman pelan-pelan mati.
Tuhan tidak mencari pelayan yang pandai menyesuaikan diri dengan suhu sinodal, melainkan mereka yang berani melompat — keluar dari air nyaman, keluar dari sistem busuk, keluar dari kursi yang membius.Sebab pelayanan bukan tentang siapa yang duduk di kursi, melainkan siapa yang masih berani melompat demi kebenaran. Disadur dan dikembangkan dari refleksi, Pdt. (Em) John Wantah. ewako-mappkoe@gpibwatch.id /JP

