Opini
Home / Opini / Jalan Gelap atau Jalan Terang, Kursi Sinode Kursi Berduri

Jalan Gelap atau Jalan Terang, Kursi Sinode Kursi Berduri

Kursi Sinode Bukan Kursi Empuk, tetapi Kursi Berduri,  Siapa yang duduk di sana harus siap memikul salib, Bukan menagih kehormatan, Karena banyak yang mengaku dipanggil melayani, padahal sibuk melobi.

Jakarta, gpibwatch.id – Kita tentu tidak akan memilih jalan orang fasik sebagai cara hidup, kita juga tidak menginginkan kalau kejahatan adalah cara  untuk mendapatkan kepuasan diri.

Amsal 4:18 menegaskan, ‘Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari’. Ayat ini seolah menampar kita di tengah dinamika pemilihan Majelis Sinode GPIB – XXII. Pertanyaannya, apakah kita sedang berjalan di jalan terang, atau justru sibuk menikmati gelap dengan dalih pelayanan!

Mari kita jujur, terlalu sering kursi sinode dicari bukan untuk melayani, tetapi untuk bersinar. Namun sayangnya, yang dipakai bukan terang Kristus, melainkan lampu sorot ambisi pribadi, dan banyak yang mengaku dipanggil melayani, padahal sibuk melobi.

Banyak yang tersenyum rohani, padahal di baliknya ada kalkulasi duniawi, serta mereka bicara tentang kasih, tetapi sibuk mengukur siapa kuat, siapa lemah, siapa yang bisa menjanjikan, take and give.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Dietrich Bonhoeffer  (teolog Jerman) pernah mengingatkan,  “Pemimpin Kristen dipanggil bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan untuk menjadi pelayan, dan Gereja akan runtuh bila kursi pelayanan diperlakukan sebagai kursi kehormatan ‘ dan kursi sinode bukanlah singgasana, melainkan salib pelayanan.

John Stott (teolog Anglikan)  menegaskan, “Integritas adalah mata uang kepemimpinan Kristen. Sekali hilang, kepemimpinan kehilangan nilainya”  dan ini sangat jelas bahwa , integritas jauh lebih berharga daripada popularitas.

Stanley Hauerwas (teolog Etika Kristen, Duke University) memperingatkan bahwa, “Gereja sering gagal karena meniru politik dunia, padahal panggilan gereja adalah menjadi alternatif, bukan duplikat” jika pemilihan sinode hanya meniru pola politik sekuler, maka gereja sedang menempuh jalan gelap.

Oleh sebab itu, kita harus ingat, Gereja bukan panggung politik, Sinode bukan bargaining position, Sinode bukan panggung ambisi. 

Kursi sinode bukan Kursi Empuk, tetapi Kursi Berduri, dan siapa yang duduk di sana harus siap memikul salib, bukan menagih kehormatan, dan pilihlah jalan terang, atau kita semua akan berjalan bersama dalam gelap alias pura-pura terang.ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat