Mumpung ada kesempatan, kapan lagi, saya juga hanya sebentar di pelayanan..Ini Cermin Gila…
Jakarta, gpibwatch.id—Perbuatan memberi sedekah, yakni memberikan sesuatu kepada orang yang berhak dibantu, adalah kewajiban agama sekaligus panggilan iman. Sedekah diyakini menjadi tabungan untuk memperoleh rahmat, pengampunan, bahkan perkenanan dari Allah.
Berbuat sedekah harus dilandasi kasih dan ketulusan. Salah satu bentuknya adalah persembahan yang dikumpulkan dalam gereja sebagai diakonia bagi mereka yang memerlukan. Tentu menjadi baik apabila pemberian itu tidak dibarengi rasa tinggi hati, tidak mencari pujian, tidak ingin dikenal, serta tidak mengharapkan kehormatan dari mereka yang menerima.
Namun tidak jarang sang pemberi terjebak dalam kegilaan hormat dan berkata dalam hati, “semua ini karena saya.” Hal seperti ini kerap muncul dalam lingkaran pelayanan, baik ketika masih berada dalam struktur pelayanan maupun ketika sudah berada di luar kepengurusan. Karena merasa memiliki segalanya—terutama materi—ia ingin tampil, mengatur, bahkan melakukan intervensi terhadap jalannya pelayanan.
Pertanyaan pun muncul: apakah pemberian itu berasal dari jerih payah yang diberkati, atau justru dari hasil tipu daya, manipulasi, atau kecurangan? Sepandai-pandainya seseorang menutupi semuanya dan menyimpannya dalam “lemari pendingin”, pada waktunya rekam jejak akan terbongkar. Dana yang lama membeku akan bersaksi bahwa ia tidak dihasilkan dari keringat yang jujur.
Para penerima diakonia, yang tidak berdaya karena keadaan, menerima dengan sukacita dan syukur. Namun ada pula yang menjadi seperti semut di gula manis, terus mengadah tangan dan menutup mata terhadap sumber pemberian yang sebenarnya bermasalah, dan memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, sambil berkata dalam hati, “mumpung ada kesempatan, kapan lagi; saya juga hanya sebentar di pelayanan ini.”
Maka menjadi cermin bagi kita semua: mampukah kita memberi dengan jujur? Tanpa haus pujian, tanpa gila hormat, tanpa pendekatan demi perhatian para pemimpin pelayanan? Sebab ketika pemberian kehilangan kejujuran, yang tersisa bukan lagi persembahan, melainkan kuasa uang di balik jubah pelayanan.“Ini Cermin Gila.” Refleksi JP (terinspirasi dari SBU GPIB, 21 Maret 2026)

