Marturia
Home / Marturia / Dari Tujuh Roti: Belas Kasihan yang Menggerakkan

Dari Tujuh Roti: Belas Kasihan yang Menggerakkan

Jika gereja mau meneladani Kristus, gereja harus mulai berbagi, bukan dari kelimpahan, tetapi dari apa yang ada saat ini.

Surabaya, gpibwatch.id – Minggu lalu kita menyaksikan bagaimana Matius mempersaksikan bahwa Yesus tergerak hati-Nya. Minggu ini, melalui Markus 8:1–9, kita melihat Yesus sendiri menyatakan belas kasihan-Nya terhadap orang banyak yang telah tiga hari mengikuti-Nya. Mereka lapar. Jika disuruh pulang, mereka bisa terkapar di jalan. Empati Yesus nyata dan konkret.

Namun, kita juga melihat respons para murid. Mereka berpikir secara logis: bagaimana mungkin memberi makan orang banyak di tempat yang sunyi? Bagi mereka, itu tidak mungkin.

Yesus tidak terjebak dalam pesimisme murid-murid-Nya. Ia tidak menyerah pada logika kelangkaan. Ia bertanya: “Ada berapa roti?” Jawab mereka: tujuh. Di sinilah mukjizat dimulai.

Mukjizat tidak dimulai dari kelimpahan, melainkan dari keterbatasan yang diserahkan. Tujuh roti dan beberapa ikan. Dari sedikit itu Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan, dan membagi-bagikannya. Hasilnya? Empat ribu orang makan dan kenyang, dan masih tersisa tujuh bakul.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Mukjizat itu lahir dari keinginan untuk berbagi, bukan dari kondisi “sudah cukup”. Yesus tidak menunggu 4.000 roti untuk 4.000 orang. Ia memulai dari tujuh roti untuk 4.000 orang. Dan hasilnya sungguh mencengangkan.

Sayangnya, gereja hari ini sering jatuh dalam perangkap narsisme rohani. Lebih sibuk mencintai diri sendiri daripada berbagi. Tak heran jika gereja terasa stagnan, mundur, dan selalu merasa berkekurangan. Padahal masalahnya bukan kekurangan, melainkan keengganan berbagi.

Kalaupun berbagi, seringkali ada pamrih: ingin dipuji, dihormati, diangkat nama baiknya. Ada pula alasan klasik: “Nanti kalau gereja sudah berlebih, baru bisa berbagi.” Alasan ini sudah diulang sepanjang abad.

Yesus mengajarkan sebaliknya: mulailah dari apa yang ada di tanganmu. Jika gereja mau meneladani Kristus, gereja harus mulai berbagi, bukan dari kelimpahan, tetapi dari apa yang ada saat ini.

Dan ingat: gereja itu bukan gedung. Gereja adalah Anda dan saya. Mau melihat karya Tuhan? Mulailah berbagi — dan berhentilah narsis. ewako–mappakoe@gpibwatch.id /DR/Jp

“Angin Surga” vs Angin Kebenaran

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat