Kita sibuk memilih berdasarkan kerapian jas, kefasihan bicara, dan kedekatan jaringan, padahal Tuhan bekerja lewat orang yang tidak dianggap, yang kita kira ‘liar’ justru berhati malaikat, sementara yang berwajah suci, tega membuang….
Jakarta, gpibwatch.id – Tahun 2006, seorang anak kurus, sekarat, nyaris mati. Dunia melihatnya sebagai sampah. Tapi seorang wanita bertato berhenti, memberi minum, memberi harapan.
Tahun 2013, anak itu tersenyum, duduk di pangkuannya, tumbuh kuat dan tahun 2025, ia berdiri tegak dengan toga, berpelukan dengan sosok yang dulu berani menolongnya.
Inilah ironi kehidupan, yang kita kira ‘liar’ justru berhati malaikat, sementara yang berwajah suci, berseragam rapi, kadang justru tega membuang.Lalu mari kita lihat pesta iman, pesta suksesi atau pemilihan Majelis Sinode GPIB, 2025-2030.Jangan-jangan kita sedang menilai seperti dunia menilai wanita bertato itu , hanya dari kulit luar. Kita sibuk memilih berdasarkan kerapian jas, kefasihan bicara, dan kedekatan jaringan, padahal Tuhan sering bekerja lewat orang yang tidak dianggap.
Pemimpin sejati bukan boneka etalase rohani. Ia adalah yang berani kotor tangannya demi mengangkat jemaat yang hampir mati. Kalau tidak, gereja akan tetap sekarat di jalan, berbicara kasih tapi kehilangan belas kasihan.
Tulisan ini terinspirasi dari kisah viral di media sosial tentang seorang wanita bertato yang menyelamatkan anak kecil, kini menjadi refleksi bagi gereja dalam memilih pemimpin yang berhati melayani. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

