Kritik kita sebut ancaman, padahal sering kali ia adalah anugerah yang menyamar. Pelayanan yang steril dari konflik sering kali bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda pembungkaman. Kita lebih suka dikelilingi penjilat daripada penegur,,,
Surabaya, gpibwatch.id — Cerita dalam Yeremia 32:1–16, bahkan hingga ayat 42, menyingkapkan dua wajah manusia ketika berhadapan dengan krisis.
Ada wajah yang memilih marah karena tidak cukup bijaksana untuk bercermin. Wajah ini gemar menunjuk ke luar, menyalahkan orang lain, namun enggan mengoreksi diri. Ia sibuk mencari kambing hitam, tetapi lupa mencari kebenaran. Yang dipelihara bukan pemulihan, melainkan pembelaan diri.
Ada pula wajah yang memilih kebijaksanaan. Bukan dengan meniadakan masalah, melainkan dengan melakukan apa yang terbaik yang masih mungkin dilakukan, sekalipun pahit dan tidak populer.
Wajah pertama terlukis jelas pada diri Raja Zedekia. Ketimbang bertanya mengapa dirinya dan Israel harus jatuh ke tangan Babel dan apa yang harus diperbaiki, ia justru memenjarakan suara yang berani berkata jujur. Ia tidak alergi pada krisis, tetapi alergi pada kebenaran.
Zedekia adalah tipe pemimpin yang lebih percaya pada kabar baik yang menenangkan, meskipun palsu, daripada kebenaran yang mengguncang. Ia pemimpin yang kenyang oleh pujian, tetapi lapar akan hikmat—tertiup oleh angin surga.
Wajah kedua tampak pada diri Yeremia. Ia tidak menciptakan masalah, namun ia dipaksa memikul bebannya. Sistem dan budaya menyeretnya ke dalam penderitaan. Namun Yeremia tidak menjadikan Tuhan sebagai tersangka, juga tidak menjadikan masyarakat sebagai musuh. Ia membaca krisis sebagai kehendak Tuhan dan menaatinya—bahkan ketika ketaatan itu tampak seperti tindakan yang tidak masuk akal.
Mungkin kita mudah menghakimi Zedekia. Namun sering kali, wajah yang sama sedang bercermin di hadapan kita. Kita lebih fasih menyalahkan orang lain daripada mengakui kebobrokan diri sendiri. Kita lebih nyaman dengan pujian yang meninabobokan daripada kebenaran yang membangunkan. Kita lebih suka dikelilingi penjilat daripada penegur.
Sebagai pemimpin, kita kerap lebih bangga pada loyalitas semu daripada kejujuran yang mahal. Kita memelihara orang-orang yang pandai mengangguk, tetapi menyingkirkan mereka yang berani bertanya. Kritik kita sebut ancaman, padahal sering kali ia adalah anugerah yang menyamar.
Kita menghendaki pelayanan yang berjalan mulus, tanpa riak, tanpa kerikil, tanpa suara sumbang. Padahal pelayanan yang steril dari konflik sering kali bukan tanda kedewasaan, melainkan tanda pembungkaman.
Hidup dalam dunia pelayanan dan persekutuan tidak pernah sepenuhnya glowing dan bleaching. Selalu ada noda dalam pengelolaan organisasi, selalu ada perbedaan pendapat. Ironisnya, noda itu kerap kita tutupi dengan cat rohani, bukan kita bersihkan dengan pertobatan.
Pemimpin yang mudah tersinggung oleh kritik pedas—meski benar adanya—biasanya lebih memilih angin surga daripada angin kebenaran. Ia lebih percaya kepada para pengiring setia yang selalu patuh, dibandingkan mereka yang kritis dan berani mengoreksi kebijakan yang keliru. Ego pun naik takhta, sementara akal sehat dipaksa turun dari singgasana.
Ketika perbedaan pandangan muncul, pintu pelayanan perlahan ditutup. Bukan karena tidak layak, melainkan karena tidak seirama. Pelayanan akhirnya berubah dari ladang perutusan menjadi ruang aman bagi ego.
Seorang pemimpin jemaat seharusnya mampu mengelola setiap masukan dengan hikmat: membedakan mana yang lahir dari kasih dan kebenaran, mana yang menyesatkan, dan mana yang sekadar mencari muka. Hanya dengan demikian pelayanan dijalankan sebagai karya iman—dipimpin oleh suara hati nurani yang tunduk kepada Kristus, bukan oleh telinga yang haus pujian. (Refleksi atas Yeremia 32:1–42). DR/JP

