Pdt. Ebser M. Lalenoh: Persidangan Gereja Harus Menjadi Kesaksian, Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul
Lampung, gpibwatch.id — “Apakah saudara-saudara benar-benar percaya kepada Yesus, Firman yang benar?”
Demikian pertanyaan pembuka yang disampaikan Pdt. Ebser M. Lalenoh, Sekretaris Umum MS GPIB XXII, dalam Ibadah Minggu dan Perkenalan Panitia PST GPIB Tahun 2027 di GPIB Jemaat “Marturia” Lampung, Minggu, 10 Mei 2026, dengan pembacaan Firman Tuhan dari Wahyu 1:1–19.
Dalam khotbahnya ditegaskan bahwa Yesus hidup dan berkuasa. Orang-orang yang percaya kepada-Nya harus terus mengingat apa yang dikatakan Tuhan, baik ketika menghadapi ancaman maupun situasi kehidupan yang tidak menyenangkan.
Iman menjadi tanda utama dari orang yang percaya. Dalam menjalani dan menghadapi segala sesuatu, orang percaya diajak tetap bersandar kepada Tuhan, sebab Tuhan sendiri yang berfirman bahwa Ia akan menolong umat-Nya.
“Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.”
Tuhan tidak pernah berubah di tengah perubahan sikap manusia, di tengah menurunnya iman dan kepercayaan, bahkan di tengah keragu-raguan dalam panggilan dan pengutusan. Tuhan tetap menyertai umat-Nya.
Disampaikan pula bahwa ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang tetap percaya kepada Tuhan, sekalipun harus memikul penderitaan dan kesusahan. Semua itu tidak boleh menyurutkan iman percaya kepada-Nya.
Orang benar dan gereja yang benar adalah mereka yang hidup mengikuti Firman Tuhan, bukan hidup menurut kehendaknya sendiri. Kebenaran Firman menjadi dasar agar setiap orang memiliki motivasi hidup yang benar dan melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.
Melalui kesaksian Rasul Yohanes, jemaat diajak membangun kembali fondasi hidup yang kokoh supaya tetap kuat dan teguh dalam iman.
Jemaat juga diingatkan untuk tidak melupakan dan tidak melalaikan tugas mempercakapkan serta memberitakan kebenaran yang dibutuhkan untuk menerangi dunia.
Disampaikan pula bahwa Tuhan bersedih ketika melihat jemaat tidak bertumbuh dalam iman, ketika umat hidup menurut kemauannya sendiri dan tidak berjalan menurut kehendak Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya.
Orang percaya, menurutnya, bukanlah mereka yang mencari kedudukan, kemuliaan, ataupun penghargaan. Gereja juga diingatkan untuk menjauhi kekerasan dan tidak mengotori tubuh Kristus, melainkan hidup dalam kekudusan, ketulusan hati, dan pikiran.
Terkait pelayanan Panitia PST GPIB Tahun 2027, seluruh jemaat diajak untuk bersama-sama mengemban tanggung jawab tersebut dengan semangat “Jangan Takut” dalam menyelenggarakan pekerjaan Tuhan.
Di akhir penyampaiannya, Pdt. Ebser menegaskan bahwa persidangan gereja bukan sekadar acara “kumpul-kumpul”, melainkan momentum untuk menyatakan kesaksian gereja.
Lampung pun diharapkan menjadi pilot project kegiatan sinodal kolaboratif di berbagai titik pelayanan — bukan hanya tempat datang, duduk, foto, lalu pulang, tetapi ruang menghadirkan iman yang hidup dan gereja yang bekerja nyata./JP
