Opini
Home / Opini / Gembala dan Bayang Luka yang Dipelihara

Gembala dan Bayang Luka yang Dipelihara

Ada yang berkulit domba—tampil lembut, retorikanya halus, doanya panjang, teologinya terstruktur. Tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, napasnya berbau serigala…

Jakarta, gpibwatch.id  — Gereja masa kini tidak hanya menghadapi tantangan dari luar. Bahaya yang lebih sunyi dan lebih mematikan justru lahir dari dalam—dari mereka yang berdiri di mimbar, yang disebut gembala, yang dipercaya memimpin kawanan, dan tidak semua yang disebut gembala memiliki hati seorang gembala.

Ada yang berkulit domba—tampil lembut, retorikanya halus, doanya panjang, teologinya terstruktur. Tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, napasnya berbau serigala: ambisi, manipulasi, haus pengaruh, cinta posisi, ketakutan kehilangan martabat, serta ego yang menuntut pengakuan.

Lebih menyeramkan lagi ketika seorang gembala memiliki hati yang mudah tersinggung dan menyimpan luka. Kritik yang disampaikan dalam bahasa metafora atau imajiner segera dianggap sebagai serangan pribadi. Tanpa penyaringan batin dan klarifikasi yang jernih, amarah lebih dulu bersuara—bahkan disampaikan kepada jemaat sebagai narasi bahwa dirinya dibully atau diserang.

Gembala yang terusik oleh kritik terhadap mekanisme pengambilan keputusan dapat menyimpan kekecewaan yang berulang-ulang terngiang dalam batinnya. Ketika hati tertutup, ia tidak lagi mendengar secara utuh.

Ouh Tuhan, Musibah Gempa Saat Umat Songsong Tri Suci

Siapa pun yang memegang tongkat penggembalaan dapat tergoda mencari dukungan dengan menceritakan versinya sendiri atas kritik yang terjadi. Ia merasa disinggung oleh narasi yang belum tentu tertuju kepadanya. Tanpa sadar, terbentuklah kelompok-kelompok kecil yang memperkuat rasa dizalimi.

Dendam yang dipelihara tidak pernah benar-benar selesai. Ia menunggu waktu dan mencari kesempatan untuk membalas, demi memuaskan hati yang terluka. Dan jika itu terjadi, hanya sang gembala yang mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan dan jemaat.

Gembala pun manusia. Ia dapat lelah, salah paham, dan rapuh. Karena itu diperlukan kedewasaan emosional, kerendahan hati, serta kesiapan untuk mengevaluasi diri agar kritik tidak berubah menjadi kecurigaan, dan imajinasi tidak berkembang menjadi prasangka.

Sebab gereja tidak hancur oleh kritik. Gereja hancur ketika ego lebih besar daripada panggilan. Biarlah refleksi ini menjadi cermin bersama dalam perjalanan pelayanan kita.Terinspirasi dari tulisan Pdt. Samuel Pasaribu / Refleksi: JP

Ketika Kepiting Berteriak: Pembunuhan Karakter

Related Posts