Marah bisa terjadi antar sesama Presbiter, antara Ketua Majelis Jemaat (KMJ) dan jemaat, bahkan antar jemaat itu sendiri. Tidak jarang kemarahan ini berlarut-larut hingga menumbuhkan akar pahit…..
Bekasi, gpibwatch.id — Dalam sebuah jamuan makan malam, Winston Churchill duduk di sebelah Lady Astor, anggota parlemen yang dikenal keras dan tajam. Dengan nada marah, Lady Astor berkata: “Mr. Churchill, kalau saya menjadi istri Anda, saya akan menaruh racun di kopi Anda.” Lady Astor berharap Churchill terpancing emosi. Namun jawabannya justru di luar dugaan: “Madam, kalau saya menikah dengan Anda, saya akan meminum kopinya.”
Sebuah jawaban tanpa marah. Jawaban yang lahir dari hati yang besar—hati yang mampu menerima keadaan dengan lapang dada. Bahkan dalam ancaman, ia tidak membalas dengan emosi, melainkan membalikkan situasi dengan humor yang menenangkan.
Namun tidak semua orang mampu bersikap seperti itu. Pada umumnya, manusia akan bereaksi dengan marah dan melawan. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kedewasaan berpikir, jam terbang kehidupan, serta kemampuan mengelola persoalan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi.
Dalam ranah pelayanan, kemarahan juga kerap muncul—hanya mekanismenya berbeda. Marah bisa terjadi antar sesama Presbiter, antara Ketua Majelis Jemaat (KMJ) dan jemaat, bahkan antar jemaat itu sendiri. Tidak jarang kemarahan ini berlarut-larut hingga menumbuhkan akar pahit yang sulit dipulihkan. Padahal, suasana dapat kembali tenang bila ada yang bersedia mengalah, bersikap rendah hati, dan mengutamakan kasih.
Karena itu, ada saat-saat ketika kita tidak perlu marah, terlebih bila kemarahan itu tidak tepat.
1. Tidak perlu marah bila disinggung atau disindir
Bila Anda marah saat disindir, Anda sedang memberi ruang pada sindiran itu untuk menguasai diri Anda. Jika sekadar perkataan kosong, lebih baik dilewatkan saja. Atau, seperti Churchill, sambutlah dengan humor. Laugh at yourself.
2. Tidak perlu marah bila ada perbedaan pendapat
Perbedaan pendapat lahir dari sudut pandang dan latar belakang yang berbeda. Penyelesaiannya adalah komunikasi yang sehat, atau menerima kenyataan bahwa tidak semua hal harus disepakati. Agree to disagree.
3. Tidak boleh marah bila dasarnya kebencian
Kemarahan yang sehat bertujuan meluruskan dan memperbaiki dengan kasih. Namun kemarahan yang berakar pada kebencian tidak lagi membangun. Dalam iman Kristen, kemarahan seperti ini telah masuk wilayah dosa.
4. Tidak boleh marah bila tidak mampu menguasai diri
Marah boleh, tetapi penguasaan diri wajib. Kemarahan yang tak terkendali—memaki, berteriak, melempar benda, mendiamkan berhari-hari, atau memfitnah—bukan lagi sarana kebenaran, melainkan tanda kehilangan kendali.
Refleksi Akhir
Tidak marah bukan berarti lemah. Justru sering kali itulah tanda kedewasaan iman—ketika kasih dipilih di atas ego, dan hikmat lebih didahulukan daripada emosi. Tulisan ini disadur dari pesan digital dan dikembangkan oleh JP.

