Di tingkat sinodal, ilalang tidak boleh dibiarkan. Ia harus dibersihkan agar tidak menumbuhkan akar pahit, terutama dalam proses pengambilan keputusan dan permutasian pelayanan….
Jakarta, gpibwatch.id — Kehidupan ini bagaikan sebuah ladang. Jika tidak ditanami dan dirawat dengan baik, ilalang akan tumbuh dengan sendirinya. Itu adalah hukum alam — tidak bisa ditawar.
Dalam konteks pelayanan pun demikian. Pelayanan menuntut orang-orang terbaik: mereka yang sungguh mendalami ilmu yang dipelajari, menghidupinya, lalu mampu mempresentasikan dan menggunakannya untuk melayani serta membimbing jemaat dengan bertanggung jawab.
Pelayanan tidak cukup dijalankan dengan posisi, tetapi dengan kesadaran dan empati. Tanpa panggilan yang sejati, yang tumbuh bukanlah buah, melainkan gulma.Ilalang — dalam hal ini — dapat dimaknai sebagai mereka yang kutu loncat: hadir sekadar lalu, melayani tanpa kedalaman, tanpa komitmen jangka panjang. Tentu ada banyak faktor yang membentuknya, namun dampaknya tetap sama — pelayanan menjadi rapuh.
Dalam konteks yang lebih luas, di tingkat sinodal, ilalang semacam ini tidak boleh dibiarkan. Ia harus dibersihkan agar tidak menumbuhkan akar pahit.
Gulma adalah pengganggu keindahan pelayanan dan kerap memberi kontribusi negatif, terutama dalam proses pengambilan keputusan dan permutasian pelayanan.
Pada akhirnya, semuanya kembali kepada para pemimpin majelis sinode saat ini: apakah memiliki keberanian untuk membersihkan ladang pelayanan, atau memilih mempertahankan parasit dan benalu — mereka yang hanya numpang sajian. Selebihnya, kita hanya bisa menunggu dan melihat. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

