Marturia Opini
Home / Opini / Orang Sakit Menunggu, Gereja Sibuk Menyusun Agenda

Orang Sakit Menunggu, Gereja Sibuk Menyusun Agenda

Tantangan kita bukan sekadar menyusun agenda, rapat, atau program strategis semata, tetapi hadir nyata di tengah jemaat dan masyarakat….

Surabaya, gpibwatch.id Kisah Para Rasul 5:12-16 menegaskan bagaimana pencurahan Roh Kudus mengubah para murid. Mereka yang sebelumnya takut menghadapi penangkapan, penyiksaan, bahkan kematian, kini berani tampil di depan publik, mewartakan keselamatan dalam Kristus dengan tegas dan percaya diri.

Roh Kudus juga membentuk mereka menjadi komunitas yang sungguh berbagi; mereka saling peduli, dan tidak membiarkan kepentingan pribadi mengalahkan kehidupan bersama. Ketika ada yang menolak berbagi—seperti Ananias dan Safira—akibatnya fatal. Dari sini, kita belajar bahwa persekutuan yang sejati bukan sekadar kebersamaan formal, tetapi komunitas yang hidup dalam Roh, peduli, dan berbagi.

Bacaan ini juga menyoroti kuasa Roh Kudus yang memampukan para rasul melakukan banyak tanda dan mujizat, terutama menyembuhkan orang sakit. Penyembuhan bukan sekadar keajaiban, melainkan tanda bahwa Allah hadir dan peduli pada kehidupan setiap individu. Pada masa itu, orang sakit sering dianggap pendosa atau bahkan tidak sepenuhnya manusia. Narasi ini membalik diskriminasi itu: Allah peduli pada setiap kehidupan, dan penyelamatan diberikan secara setara.

Semakin banyak orang disembuhkan, semakin banyak yang menantikan kehadiran para rasul. Kehadiran Petrus di jalan raya menunjukkan bahwa Kristus sendiri hadir melalui murid-Nya.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Refleksi ini penting bagi pelayan GPIB dan kepemimpinan majelis sinode yang baru. Tantangan kita bukan sekadar menyusun agenda, rapat, atau program strategis semata, tetapi hadir nyata di tengah jemaat dan masyarakat. Ada “orang sakit yang menunggu” – mereka yang membutuhkan perhatian, penghiburan, penyembuhan, dan keadilan. Jika kita terlalu sibuk dengan agenda, kita bisa kehilangan esensi pelayanan: menghadirkan Allah melalui kasih dan kepedulian nyata.

Kepemimpinan majelis sinode yang baru diingatkan untuk tidak hanya menjadi pengelola organisasi, tetapi menjadi pelayan yang membangkitkan komunitas untuk berani hadir, berbagi, dan menyelamatkan hidup sesama. Kehadiran kita sebagai gereja harus dinanti-nantikan, bukan dihindari.

Pertanyaannya adalah: apakah kita hadir untuk menyusun agenda, atau hadir nyata menolong dan menghadirkan damai bagi yang sakit, yang lemah, dan yang terpinggirkan? Roh Kudus tetap memanggil kita untuk maju, bukan menunda. DR/JP.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat