Mereka yang menyadari bahwa jabatan hanyalah titipan Allah, akan berpikir lebih tenang dibanding mereka yang dibakar ambisi dan ego duniawi…..
Bekasi, gpibwatch.id — Tak perduli dia dulunya pejabat tinggi, berpangkat, pengusaha sukses, kaya raya, atau sekadar orang biasa. Mereka yang telah melepas jubah kebesaran, membuang atribut kepangkatan, merontokkan dan mengubur gigi dan taring kekuasaan, serta menjauhi segala hal yang mengundang nafsu duniawi, kini memilih hidup sederhana dan apa adanya.
Pilihan hidup mereka adalah kesederhanaan dan kesehajaan. Mereka tak ingin terhinggapi post power syndrome, di mana keberhasilan dan kesuksesan masa lalu mengaburkan hati dan pikiran. Maka, mereka lebih banyak hening, wening, dan tafakur, menikmati hidup saat ini dengan senyum bahagia, syukur, dan ikhlas.
Orang yang demikian adalah Pandito—mereka yang telah sampai di titik mutmainah, di mana hati dan jiwa selalu tenang, tentram, dan nyaman, tanpa keraguan atau kekuatiran menghadapi hidup.
Dalam konteks pelayanan yang penuh dengan transaksional dan praktik duniawi, ketenteraman seperti ini jarang terasa. Perebutan tampuk kepemimpinan sering dipenuhi intrik dan trik yang membuat mata hati “katarak”. Mereka yang menyadari bahwa jabatan hanyalah titipan Allah, akan berpikir lebih tenang dibanding mereka yang dibakar ambisi dan ego duniawi.
Sebaliknya, cara berpikir sekuler tanpa landasan firman Allah akan terus menghantui persepsi hidup, merusak makna syukur, dan mendorong tindakan tercela.Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang purna tugas setelah 5–10 tahun melaksanakan panggilan dan pengutusan? Apakah mereka akan kembali menapaki jalan ketenteraman sebagai Pandito, atau justru terjebak dalam ilusi post power syndrome? Semua bergantung pada seberapa dalam mereka menautkan identitas, hati, dan hidup pada Allah, bukan pada status atau kekuasaan duniawi semata. Catatan: terinspirasi dari pesan digital dan refleksi pribadi penulis. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

