Marturia Opini
Home / Opini / Tuhan Tidak Dapat Dikendalikan oleh Kejahatan

Tuhan Tidak Dapat Dikendalikan oleh Kejahatan

Di dunia yang semakin pragmatis, larangan jangan mencuri terdengar kuno. Yang penting untung. Yang penting puas. Yang penting dianggap berhasil, hingga akhirnya berhenti di tempat yang paling memalukan: “Hotel Prodeo.”

Jakarta, gpibwatch.id — Tuhan tidak pernah dapat dikendalikan oleh yang jahat. Dan Ia pun tidak pernah menginginkan manusia hidup di bawah kendali kegelapan. Sebab Ia tahu: saat kita menyerah pada pencobaan, kerusakan batin mulai bekerja—perlahan, senyap, namun mematikan.

Yakobus mengingatkan dengan keras: “Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Di sini dosa bukan sekadar tindakan, melainkan proses yang dibiarkan tumbuh dalam hati yang tidak dijaga.

Tuhan tidak merancang penderitaan bagi manusia. Ia menghendaki kita menikmati kebaikan-Nya yang menghidupkan. Namun kebaikan itu tidak lahir dari kompromi, melainkan dari ketaatan—kepada kehendak-Nya, kepada firman-Nya, kepada suara-Nya yang membimbing.

Karena itu, jangan kita salah memahami hati Tuhan. Ia bukan pengamat yang jauh, tetapi Bapa yang peduli. Ia menginginkan yang terbaik bagi kita, bukan kepuasan sesaat yang berujung kehancuran.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Di sinilah peran manusia menjadi pusat. Iblis memang menggoda, tetapi manusialah yang memilih. Godaan datang dari luar, namun keputusan lahir dari dalam. Mencobai Tuhan bukan hanya dengan kata, tetapi dengan sikap menantang batas-Nya lewat tindakan yang sembrono dan kompromistis.

Semua ini tak terlepas dari kerakusan manusia—ketamakan yang tidak pernah puas, yang selalu haus akan lebih, walau dengan cara yang salah. Jalan demi jalan ditempuh, hingga akhirnya tangan berani mengambil yang bukan haknya.

Dalam hidup sehari-hari, godaan tidak pernah absen. Manusia rapuh, tetapi seharusnya iman lebih kuat daripada rayuan. Ketika seseorang sadar bahwa tindakan yang menyimpang dari kehendak Allah adalah bagian dari pekerjaan si jahat, di situlah benteng rohani mulai berdiri.

Namun ironisnya, dosa sering dianggap sepele. Kolusi, korupsi, nepotisme bukan lagi aib, melainkan dianggap kesempatan. “Kesempatan emas.” “Selagi bisa.” “Kapan lagi?” Mereka mengira Tuhan diam. Padahal yang terjadi: hati mereka yang sudah mati rasa.

Kecepatan dosa pun meningkat, tak terbendung, seperti kendaraan tanpa rem—hingga akhirnya berhenti di tempat yang paling memalukan: “Hotel Prodeo.”

Di dunia yang semakin pragmatis, larangan “jangan mencuri” terdengar kuno. Yang penting untung. Yang penting puas. Yang penting dianggap berhasil. Tetapi ukuran keberhasilan manusia tidak pernah sama dengan ukuran Allah.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Manusia memandang dari luar—Tuhan memandang ke dalam. Manusia mengagungkan hasil—Tuhan menghakimi hati. Dan di sanalah tragedi rohani itu terjadi: yang tampak berhasil di mata dunia, justru runtuh total di hadapan Tuhan. Catatan: Tulisan ini lahir dari perjumpaan pesan digital dan refleksi pribadi. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat