Marturia
Home / Marturia / PRAKSIS YESUS: KESATUAN KATA DAN LAKU

PRAKSIS YESUS: KESATUAN KATA DAN LAKU

Gereja lebih fasih berpidato daripada berkarya, lebih lincah mengkritik daripada memulihkan, lebih suka menghakimi daripada menguatkan….

Surabaya, gpibwatch.id—Jika kita memperhatikan dengan saksama kebiasaan Yesus, kita segera melihat bahwa Ia bukan pribadi yang gemar berleha-leha. Yesus adalah sosok yang aktif, enerjik, penuh antusiasme, dan kaya empati. Dalam Matius 9:35–38, penulis Injil menarasikan bagaimana Yesus tidak pernah hanya diam di satu tempat. Ia berkeliling, keluar-masuk kota dan desa, menjumpai orang-orang di jalan, mengajar di rumah-rumah ibadat, serta memberitakan Kerajaan Allah—yaitu pemerintahan Allah yang memulihkan hidup manusia.

Kabar Kerajaan itu tidak hadir sebagai konsep kosong. Ia menyentuh tubuh dan jiwa: menyembuhkan yang sakit, menguatkan yang tertindih kegagalan, dan menegakkan kembali yang rapuh. Yesus tidak berhenti pada retorika. Kata-kata-Nya bertaut erat dengan tindakan-Nya. Pengajaran-Nya berwujud pemulihan; ucapan-Nya lahir menjadi perbuatan. Tidak ada pemanis kata tanpa aksi nyata. Tidak ada kalimat yang menghancurkan atau melemahkan. Yesus mengajar bukan hanya lewat wacana, tetapi lewat kehidupan.

Namun di sinilah kegelisahan kita bermula. Apakah gereja—umat-Nya—masih memikul napas dan denyut yang sama? Ataukah kini gereja lebih fasih berpidato daripada berkarya, lebih lincah mengkritik daripada memulihkan, lebih suka menghakimi daripada menguatkan? Tidak jarang belajar berkhotbah terasa lebih penting daripada belajar menyembuhkan. Seakan-akan dengan khotbah saja, semua luka hidup dapat sembuh.

Padahal, Yesus memperlihatkan praxis—kesatuan kata dan tindakan—yang memungkinkan orang melihat kehadiran Allah di tengah kehidupan mereka. Melalui tindakan Yesus, orang bukan sekadar mendengar tentang Allah; mereka merasakan Allah hadir, menyapa, mengunjungi, memulihkan, dan menguatkan. Pertanyaannya lalu menggedor hati kita:

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Apakah melalui seluruh laku gereja, orang melihat Allah hidup di tengah mereka? Atau jangan-jangan gereja hanya sibuk beraktivitas tanpa makna—bergerak, tetapi tidak menyembuhkan; berbicara, tetapi tidak menguatkan; terpesona oleh mimbar, namun lupa bahwa dunia menjerit menunggu sentuhan kasih?

Pada ayat 36–37, Yesus memandang orang banyak itu dengan belas kasihan, lalu menyadari bahwa tugas ini tidak dapat Ia pikul sendirian. Ia membutuhkan para pekerja—pelayan Kerajaan Allah—yang mewartakan kasih bukan hanya lewat kata, tetapi lewat karya yang menyentuh kehidupan. Yesus mengundang Anda dan saya, gereja-Nya, untuk menjadi saksi yang tidak hanya mengucapkan kabar baik, tetapi menghadirkannya.

Inilah panggilan kita: Kesetiaan yang tidak hanya berbunyi, tetapi berbuah; kata yang menjelma tindakan; mimbar yang turun ke jalan. Di dalam Yesus, bersama Yesus, kita dimampukan mewujudkannya. Sebab Kerajaan Allah tidak datang lewat gema suara kita, tetapi lewat jejak kaki kita di tengah dunia. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /DR/JP

“Angin Surga” vs Angin Kebenaran

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat