Selamat bagi Bung Nitis — bukan karena menang, tapi karena telah menjadi pelajaran iman bagi banyak orang….
Jakarta, gpibwatch.id — Tahun 1979, seorang manajer restoran Wendy’s di Florida menerima lamaran kerja yang tergeletak di tumpukan paling bawah. Pelamarnya hanya ingin bekerja tiga jam sehari, di waktu makan siang. Namanya Nicky — seorang pemuda dengan Down Syndrome.
Banyak yang meragukan, “Ngapain terima orang begitu?” Tapi sang manajer mengikuti sesuatu yang tak bisa dijelaskan — dorongan hati kecil yang berkat, ‘Coba beri dia kesempatan.’
Tak disangka, Nicky justru membawa perubahan besar. Ia hafal semua pesanan hanya dari mendengar, photographic hearing bekerja tekun tanpa mengeluh, dan menulari semangat pada kru lainnya. Yang semula dikasihani, malah menjadi teladan, Yang diremehkan, justru diurapi. Lalu sang manajer berkata, “Saya belajar, Tuhan tidak pernah salah pilih.”
Empat dekade kemudian, pelajaran yang sama bergema di panggung PSR–XXII GPIB di Makassar. Banyak yang percaya pada survei, kalkulasi, dan jejaring dukungan. Banyak pula yang berkata, “Dia tidak akan sanggup, bahkan kalau diberi kesempatan pun.”
Tapi sejarah Makassar — seperti biasa — punya selera humor yang rohani. Ketika suara berhenti dihitung, dan doa mulai naik, nama yang tak diunggulkan justru berdiri di atas podium: Bung Nitis.
Dialah jawaban Tuhan atas kesombongan prediksi. Bukti bahwa langit tak membaca data, tapi menimbang hati. Bahwa Tuhan tidak memilih yang paling kuat, tapi yang paling siap untuk taat.Maka biarlah mereka yang dulu berkata “tidak mungkin” kini belajar berkata “Amin.” Sebab jika sejarah gereja ini menulis satu kalimat baru, mungkin bunyinya begini: Ternyata, yang diremehkan manusia sering kali adalah pilihan favorit Tuhan.
Dan selamat bagi Bung Nitis — bukan karena menang, tapi karena telah menjadi pelajaran iman bagi banyak orang. Disarikan dan diadaptasi dari kisah nyata tentang Nicky (Wendy’s, Florida, 1979), diolah kembali untuk konteks refleksi pelayanan GPIB. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

