Malaikat itu menatap sekeliling. Ia melihat wajah-wajah yang dulu pernah berjanji, “Ya, dengan segenap hatiku aku akan melayani-Mu.” Kini, hati itu terbelah antara panggilan dan ambisi…
Makassar, gpibwatch.id – Ada Sang Malaikat datang ke PSR – XXII. Ia tidak bersayap putih dan bercahaya, melainkan menyamar sebagai salah satu utusan. Ia ingin melihat sejauh mana pesta iman itu dijalankan dengan kejujuran dan ketulusan, sebagaimana seharusnya di hadapan Sang Pemilik Gereja.
Namun, di tengah ruang sidang yang megah, ia tertegun. Bukan doa yang menggema, melainkan bisik-bisik strategi.Bukan kesederhanaan yang tampak, melainkan kepiawaian memainkan trik dan intrik — seolah para pemain sulap sedang mempertontonkan keahliannya di panggung yang disebut “pelayanan”.
Malaikat itu menatap sekeliling. Ia melihat wajah-wajah yang dulu pernah berjanji, “Ya, dengan segenap hatiku aku akan melayani-Mu.” Tetapi kini, hati itu seakan terbelah antara panggilan dan ambisi.
Ia tahu, pesta iman ini telah kehilangan rohnya. Yang seharusnya menjadi ruang pengutusan, berubah menjadi arena pertunjukan. Yang seharusnya menampilkan kebenaran, justru menampilkan ilusi.Dan Sang Malaikat hanya bisa menunduk. Ia tahu, jika topeng pelayanan terus dikenakan, maka waktulah yang akan menelanjangi semuanya. Karena dalam kerajaan langit, sulap tak pernah bertahan lama. Yang palsu akan hilang, yang sejati akan tetap bercahaya. Makassar Pung Carita – ewakomappakoe@gpibwatch.id /JP

