Mampukah mereka menghadirkan Angin Pembaruan—Angin Perubahan atau justru tertidur lelap di atas sofa empuk, sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Semoga tak ada alamat palsu yang memimpin GPIB kali ini….
Makassar, gpibwatch.id – Empat pemimpin jemaat GPIB bermimpi besar untuk merangkak jauh menuju posisi terhormat — posisi panggilan pelayanan, posisi top leader, posisi yang hampir semua pendeta atau ketua majelis jemaat rindukan.
Dengan berbagai keahlian dan kecakapan di bidangnya, orientasi disiplin ilmu mereka mungkin sama, tetapi cara mengaplikasikannya sungguh berbeda. Ada yang lebih menonjol di bidang teologi, ada yang mengakar di pelayanan diakonia, ada yang bergerak lintas iman dan eksternal GPIB, dan ada pula yang menaruh perhatian pada bidang pendidikan.
Masing-masing memiliki jam terbang pelayanan yang berbeda, namun satu tekad mereka serupa, membangun GPIB yang lebih baik ke depan. Tetapi, tekad itu harus dibuktikan — bukan hanya sebatas retorika.
Pertanyaannya, mampukah mereka membawa angin perubahan dan pembaruan di GPIB-XXII? Ataukah mereka hanya akan larut dalam mimpi, berimajiner, dan hanyut dalam lamunan?
Keempat pendeta ini harus mampu membawa angin segar — angin yang berhembus tanpa distorsi, tanpa pesanan dari pihak manapun. Mereka harus berani memutuskan sesuatu walau tak populer. Jangan takut!
Sebab di tangan merekalah masa depan GPIB dipertaruhkan. Yang terpilih harus bisa menyembuhkan stroke telinga, mereposisi tangan patah, serta menghilangkan katarak, kolusi, dan nepotisme dalam penempatan personil di unit-unit misioner, yayasan, dan badan-badan GPIB.Mampukah mereka menghadirkan Angin Mamiri, Angin Pembaruan, Angin Perubahan — atau justru tertidur lelap di atas sofa empuk, sambil menikmati angin sibu-sibu, angin sepoi-sepoi, hanyut dalam podcast imajiner, dan berkata lirih: “Wow… sakitnya di sini.” Semoga tak ada alamat palsu yang memimpin GPIB kali ini. “Just one truly.” Makassar Pung Carita-JP

