Para utusan perlu jeli menilai, mana pendeta yang benar-benar layak memimpin dan pantas menjadi FMS GPIB 2025–2030, telaah rekam jejak para kontestan dengan cermat….
Jakarta, gpibwatch.id – Tatkala secangkir kopi diteguk, terasa manis-pahit dengan kafein yang menggairahkan tubuh dan menyegarkan pikiran yang sedang kalut—kalut memilih siapa “sang raja” dan “sang ratu” dalam pesta pemilihan fungsionaris Majelis Sinode.
Sang “raja” dan “ratu” itu tak lain adalah Ketua Majelis Jemaat atau pendeta—utusan jemaat di PSR GPIB – XXII. Namun di lapangan, ada pula yang bergaya voyous rohani —otoriter di jemaat, bertindak semaunya, sulit menerima masukan, bahkan abai terhadap perasaan orang lain. Dan dalam pemilihan PHMJ, nama-nama kadang sudah “diatur” sejak awal—menyimpang dari aturan tager, begitupun dalam pemilihan Unit Misioner.
Para utusan perlu jeli menilai, mana pendeta yang benar-benar layak memimpin dan pantas menjadi FMS GPIB 2025–2030. Jangan segan berkoordinasi dengan rekan sesama utusan, telaah rekam jejak para kontestan dengan cermat.KMJ yang bergaya otoriter harus berani bercermin, sadar diri, dan berdoa sungguh-sungguh. Tanyakan dalam hati, apakah aku benar-benar layak dan pantas memimpin 356 jemaat?
Mengubah tabiat dan karakter bukan perkara mudah. Dipoles dengan apa pun hingga mengilap—bahkan dengan Vanish, penghilang noda terampuh—takkan mampu meniadakan sifat lama yang telah melekat. Jiwa jagoan itu tetap hidup. Karena memang ada yang sejak awal merasa “aku memang begini, tak bisa diubah.”
Mungkin hanya secangkir kopi panas yang bisa mengubah cara berpikir—membuatnya lebih lembut, atau justru lebih ganas. Pilihan ada di tangan Anda. Salah pilih, salah langkah—tanggung jawab tetap di pundak masing-masing. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

