Ivan akan dianggap terlalu jujur, terlalu polos, terlalu rohani, terlalu tidak menguntungkan, maka jangan heran bila di sidang ini, bukan kejujuran yang mendapat suara terbanyak, melainkan kelihaian…..
Jakarta, gpibwatch.id – Di Olimpiade, Abel Mutai dari Kenya hampir menang. Hanya satu meter dari garis finis, ia berhenti. Di belakangnya, Ivan Fernandez dari Spanyol tidak menyalip, tetapi mendorongnya agar tetap juara. Dunia menunduk hormat. Masih ada manusia yang menolak menang dengan cara kotor.
Namun di lintasan Sinode GPIB ke-XXII, andai Ivan ikut berlari — ia tak akan terpilih. Karena di lintasan ini, kejujuran bukan modal, ketulusan bukan strategi, dan dorongan untuk menolong justru disangka manuver politik yang gagal membaca peta.
Yang berhenti satu meter dari garis finis, bukan didorong maju — melainkan disingkirkan pelan-pelan oleh tangan yang tetap dilipat dalam doa. Doa yang indah di bibir, tapi dingin di hati.Di ruang sidang, ayat bergema: “Semua untuk kemuliaan Tuhan.” Namun di balik senyum, ada kalkulasi kursi, kuota, dan koalisi. Yang tidak bermain di dalam sistem dianggap tidak realistis, tidak strategis, tidak cocok memimpin gereja modern. Ivan akan dianggap terlalu jujur, terlalu polos, terlalu rohani — terlalu tidak menguntungkan.
Maka jangan heran bila di sidang ini, bukan kejujuran yang mendapat suara terbanyak, melainkan kelihaian mengatur langkah dan pandai membaca angin rohani.
Mungkin Tuhan sedang duduk di bangku penonton, menggeleng perlahan, sambil berkata lirih, “Kalau beginilah gereja-Ku berlomba, Aku tak tahu lagi siapa yang sedang berlari untuk-Ku,” ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
