Di-tengah Arena Pesta Suksesi Majelis Sinode GPIB, kulit badak saja tak cukup, perlu mata di punggung, sebab pisau sering datang bukan dari lawan, tetapi dari tangan yang pernah berdoa bersama…
Jakarta, gpibwatch.id – Pemilihan Majelis Sinode GPIB seharusnya menjadi momentum kudus untuk mencari mereka yang mau memikul salib pelayanan. Namun, entah sejak kapan salib itu mulai ditinggalkan di tikungan, dan yang dikejar bukan lagi pengabdian, melainkan kursi, lengkap dengan kehormatan dan pengaruhnya.
Di balik doa dan senyum rohani, sering tersembunyi strategi dan lobi yang lebih rapi daripada konsistori. Ada yang memeluk bukan karena kasih, tetapi karena hitung-hitungan dukungan. Ada yang berseru…. “Tuhan kirimlah aku”, padahal hatinya berkata “asal posisinya jelas”.
Pemimpin sejati seharusnya berdiri tegak dengan hati murni, melihat lebih jauh daripada ambisi pribadi. Namun, di ruang sidang yang seharusnya suci, sering terdengar bisik-bisik tak bernama, lobi halus, janji samar, dan tatapan penuh kalkulasi.
Karena itu, di tengah Arena Pesta Suksesi Majelis Sinode GPIB, kulit badak saja tak cukup. Di tengah senyum yang manis dan pelukan hangat, setiap orang perlu mata di punggung. Sebab dalam pemilihan yang katanya rohani ini, pisau sering datang bukan dari lawan, tetapi dari tangan yang pernah berdoa bersama.
Salib memang berat, tapi justru di situlah kemuliaan pelayanan diuji. Kursi bisa diberikan, tapi salib hanya bisa dipikul.Kiranya GPIB tak kehilangan arah, agar yang dipilih nanti bukan mereka yang paling lihai berstrategi, bukan yang paling lihai bermain, melainkan yang paling siap berkorban dan yang paling siap melayani. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

