Opini
Home / Opini / Ketika Persekutuan Diganti Ambisi

Ketika Persekutuan Diganti Ambisi

“Sendiri lebih baik — Asal suaranya cukup.” Begitulah, tafsir bisa berubah arah jika disentuh oleh tangan ambisi….

Jakarta, gpibwatch.id – Ada kalimat yang sering terdengar di antara kita, biasanya diucapkan dengan nada penuh keyakinan, ‘Saya bisa hidup sendiri. Tak perlu bantuan siapa pun’.

Kalimat itu terdengar gagah, seperti deklarasi kemandirian dari menara pelayanan yang tinggi. Namun, lucunya, bahkan untuk mengenakan jas sinode yang dipakai hari ini pun kita masih bergantung pada jarum penjahit, pada buruh pabrik, dan petani kapas yang tak pernah tahu bahwa hasil kerjanya ikut tampil di ruang sidang gereja.

Manusia memang diciptakan bukan untuk hidup sendiri. Namun entah mengapa, setiap kali masa Pemilihan Majelis Sinode GPIB  tiba, sebagian dari kita seolah lupa ayat itu. Kata “persekutuan” perlahan diganti dengan “posisi”, dan “kebersamaan” digeser oleh “kepentingan”. Suara hati diredam oleh strategi, doa digantikan oleh negosiasi.

Kitab Pengkhotbah 4:9 berkata, “Berdua lebih baik daripada seorang diri.” Tapi di ruang berpendingin udara, ayat itu sering diterjemahkan ulang: “Sendiri lebih baik — Asal suaranya cukup.” Begitulah, tafsir bisa berubah arah jika disentuh oleh tangan ambisi.

Padahal gereja bukan panggung adu gengsi, dan pelayanan bukan gelanggang politik untuk menakar siapa paling lihai merangkai janji. Tubuh Kristus tidak dibangun dari ego yang saling beradu, melainkan dari tangan-tangan yang mau merendah dan saling menopang.

Antara Politik dan Missio Dei

Mereka yang berkata “bisa sendiri” sebetulnya sedang menipu dirinya sendiri. Sebab bahkan napas yang dihirup pun bukan hasil produksinya. Gereja tidak lahir dari satu tangan, tapi dari banyak tangan, dari hati yang bekerja diam-diam, tanpa sorotan, tanpa baliho, tanpa tepuk tangan. Dan Tuhan tidak memilih mereka yang berdiri sendiri di podium, tetapi mereka yang mau berjalan bersama di jalan yang sama, meski tanpa sorotan cahaya.

Jadi, sebelum berkata “Saya bisa sendiri” barangkali lebih baik kita bercermin. Sebab di balik pantulan kaca itu mungkin bukan pelayan Tuhan yang kita lihat, melainkan bayangan kecil yang sibuk menutupi kesendiriannya dengan topeng kehebatan.

Pada akhirnya, manusia dan gereja, hanya bisa bertahan karena bersama. Sendiri mungkin tampak gagah sesaat, tapi dalam pelayanan, kesendirian adalah awal dari kehancuran. Dan di ujung semua hiruk pikuk, hanya secangkir kopi dan suara hati nurani yang tersisa, berbisik pelan, “Benarkah engkau masih tahu bedanya persekutuan dan ambisi?”

Catatan: Refleksi Satir dalam Konteks Pemilihan Majelis Sinode GPIB. Disadur dan dikembangkan dari narasi Bung Domidoyo Ratupenu./ ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat