Pdt. Lieke Hehanussa, Ibarat kuda hitam yang bisa membalikkan peta kontestasi di PSR GPIB XXII, sebab langkah lembut perempuan bisa lebih mengguncang dari derap kaki seribu laki-laki yang berlari…
Jakarta, gpibwatch.id – Kini perempuan tak lagi sekadar pelengkap dalam panggung sosial maupun gereja. Melalui gerakan feminisme yang menuntut kesetaraan, suara perempuan semakin keras terdengar. Budaya patriarki yang menebal dalam pesta suksesi MS GPIB 2025–2030 bisa saja terkikis habis, hanyut ditelan badai samudra nan ganas. Kehadiran perempuan bukanlah basa-basi, mereka hadir dengan logika yang tajam, nalar yang matang, dan kepekaan yang sering luput dari kaum pria.
Polling aspirasi jemaat di GPIBWATCH, memang melahirkan nama-nama lelaki jantan yang gagah berani. Namun, di balik itu ada sosok yang tak masuk nominasi, tetapi bisa menjadi game changer, Pdt. Lieke Hehanussa. Ia ibarat kuda hitam yang bisa membalikkan peta kontestasi di PSR GPIB XXII.
Dengan segudang pengalaman, ditambah karisma dan kepiawaian personalnya, bahkan lewat hobi tarik suara yang mendekatkan dirinya dengan jemaat, tidak mustahil dukungan untuknya makin deras. Di Bidang III GERMASA, justru tangan perempuan bisa memberi warna baru, lebih peka terhadap oikumene, lintas iman, sosial-kemasyarakatan, dan lingkungan hidup.
Mungkin inilah saatnya GPIB memberi ruang pada “kuda hitam” yang datang dengan semangat perubahan. Sebab terkadang, langkah lembut perempuan bisa lebih mengguncang dari derap kaki seribu laki-laki yang berlari.Dan di ujung kontestasi nanti, saat pemilihan selesai, sorak berhenti, dan hasil diumumkan, mungkin ada satu perempuan yang tersenyum tenang, meneguk kopi panas, sembari berkata, “Kadang kemenangan tidak perlu diumumkan, cukup diseduh perlahan.” ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

