Dari tangan fotografer yang bersih akan lahir pemimpin pembaruan, terbuka pada kritik, transparan, inklusif, dan mampu mengelola perbedaan dalam ruang dialog….
Jakarta, gpibwatch.id – Lensa kamera, bila digunakan sesuai peruntukannya, akan menghasilkan visual yang jernih. Namun, tidak semua orang mampu mengoperasikan lensa, dibutuhkan ketelitian, pengalaman, dan kepekaan untuk membidik objek yang sesungguhnya bernilai.
Begitu pula dalam pemilihan MS GPIB. “Para Utusan Ibarat Fotografer”. Bila terampil mengatur fokus, mereka akan melahirkan pemimpin yang dapat diandalkan. Fotografer sejati tahu membedakan gambar asli dari yang penuh manipulasi, ia sanggup menangkap angle yang bertanggung jawab dan menghasilkan image dengan value tinggi.
Bila para fotografer ini benar-benar menjalankan peran, maka noise dan kegaduhan dapat direduksi. Hasil bidikan akan pure, bukan rekayasa. Namun, masalah muncul ketika sang fotografer justru “masuk angin”, terserang vertigo, migren, alergi, atau bahkan diare moral yang mendadak akut. Dan saat itu, fokus bisa kabur, dan kamera kehilangan arah.
Karena itu, proteksi sejak dini mutlak diperlukan. Fotografer harus menjaga kejernihan pikiran, logika, dan nalarnya, agar tetap setia pada panggilan Ilahi. Dari tangan fotografer yang bersih akan lahir pemimpin pembaruan, terbuka pada kritik, transparan, inklusif, dan mampu mengelola perbedaan dalam ruang dialog.
Tetapi, pertanyaan besar masih tersisa, mampukah sang fotografer tetap jernih, tidak tergoda ambisi, tidak masuk perangkap manipulasi, tidak tercemar kepentingan pribadi yang hanya menawarkan kue brownies temporer? ewako-mappokoe@gpibwatch.id /JP
