Ada aroma ambisi yang lebih kuat daripada nikmat secangkir kopi, ada ambisi tsunami yang siap menghantam komitmen, konsentrasi, bahkan kesepakatan iman gereja…
Jakarta, gpibwatch.id – Menghirup aroma kopi asli, pikiran jadi bergejolak, sukma pun terusik. Nikmatnya kopi memang melahirkan inspirasi tanpa batas. Dari secangkir kopi panas, ide-ide bermunculan, satir, reflektif, kadang imajiner.
Namun, menjelang pesta besar suksesi kepemimpinan Majelis Sinode GPIB, 2025-2030 aroma kopi itu seakan berubah. Bukan lagi sekadar kafein yang menghidupkan, melainkan prostat (proses yang semakin ketat) yang sibuk mengatur strategi kursi, dan mutasi yang tekun memindahkan pendeta.
Dua istilah ini seolah menjelma jadi karakter kartun: berlari, saling mengejar, saling menjegal, bagai Tom and Jerry.
Pertanyaannya: mengapa perebutan ini tak kunjung reda?
Apakah kursi MS.GPIB terlalu empuk untuk dilepas? Apakah mutasi pendeta jadi alat tukar-menukar kepentingan? Ataukah sudah ada ambisi tsunami yang siap menghantam komitmen, konsentrasi, bahkan kesepakatan iman gereja?
Kopi seharusnya menyegarkan pikiran. Tapi kali ini, ia justru menyingkap aroma getir di balik pemilihan MS.GPIB, ada aroma ambisi yang lebih kuat daripada nikmat secangkir kopi.
Bila ada yang merasa tersindir, itu sepenuhnya efek samping dari kopi, bukan dari penulis. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
