Opini
Home / Opini / Suap, Tak Perlu Munafik dan Bertopeng Idealis

Suap, Tak Perlu Munafik dan Bertopeng Idealis

Praktik suap dapat muncul dengan wujud beragam, berupa lobi dan koalisi kepentingan, janji kursi atau fasilitas, traktiran makan-minum, pemberian bingkisan, hingga transportasi,,

Jakarta, gpibwatch.id – Suap–menyuap kerap dipandang sebagai sesuatu yang indah jika dikaitkan dengan nuansa romantis, dan proses metabolisme dan vaskularisasi akan bekerja dengan baik, termasuk hormon endorfin, hormon kebahagiaan.

Namun, semua keindahan itu lenyap seketika ketika praktik suap tersingkap lewat Operasi Tangkap Tangan (OTT). Yang muncul justru kecemasan, stres, depresi, hingga tekanan mental yang berlapis.

Dalam kenyataan sosial, suap adalah bagian dari korupsi. Jika korupsi diibaratkan sebagai pohon, maka suap adalah salah satu cabangnya. Tidak semua korupsi adalah suap, tetapi setiap suap jelas merupakan bentuk korupsi aktif yang paling nyata.

Pertanyaan yang sering muncul, Adakah suap dalam pemilihan majelis sinode? Jawabannya tergantung pada konteks, situasi, dan kondisi. Namun, menutup mata dengan berpura-pura idealis jelas tidak bijak. Faktanya, setiap orang memiliki kepentingan, dan kadang kepentingan itu dibungkus dengan topeng idealisme.

Antara Politik dan Missio Dei

Dalam pemilihan majelis sinode, praktik suap dapat muncul dengan wujud beragam, berupa lobi dan koalisi kepentingan, janji kursi atau fasilitas, traktiran makan-minum, pemberian bingkisan, hingga transportasi.

Semua itu bermuara pada tujuan yang sama, memperoleh dukungan. Ada mekanisme ‘take and give’, penerima menjual suara atau kewenangan, sementara pemberi berharap imbalan berupa jabatan atau keputusan tertentu. Inilah praktik transaksional yang sering kali dibungkus dengan bahasa rohani.

Menurut Transparency International, suap adalah salah satu bentuk korupsi paling berbahaya. Ia menciptakan ketidakadilan, menumbuhkan ekonomi bayangan, serta melemahkan institusi demokrasi.

Jika dampak itu begitu nyata di ranah politik, maka tentu kita perlu waspada bahwa hal serupa dapat merembes ke ranah kehidupan bergereja.

Karena itu, kita tak perlu munafik atau menutupinya dengan topeng idealis. Suap, dalam bentuk apa pun, adalah racun yang merusak keadilan, merapuhkan moral, dan menghancurkan fondasi kehidupan bersama. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat