Usia tua seharusnya tentang damai dan bijak, tentang ketenangan dan hikmat, tapi yang memburu kursi sering lupa, demi Kursi Emas dan Kursi Berduri…
Jakarta, gpibwatch.id – Fajar menyapa tanpa tergesa, Langkah kaki masih tejaga, tapi beberapa masih berlari, berlari kencang mengejar kursi, bukan mengejar kedamaian.
Usia tua seharusnya tentang damai dan bijak, tentang ketenangan dan hikmat, tapi sebelum Pesta Suksesi Majelis Sinode, ada yang mengukur nilai diri dengan polling aspirasi dan senyum selebar kertas suara, bahkan senyum selebar videotron.
Tua bukan berarti usang, tapi matang, matang dalam pikiran dan logika. Yang matang sangat tahu, damai lebih berharga daripada gaduh.
Tapi yang memburu kursi sering lupa, damai bukan alat politik, dan beberapa malah menukar kebaikan dengan strategi praktis dan transaksional.
Memberi kebaikan di usia senja sudah seharusnya, namun bukan untuk pujian. Memasuki arena pergantian top eleven Majelis Sinode, beberapa malah menukarnya dengan siasat dan janji manis.
Terima kasih, ya Tuhan, hari ini aku cukup, cukup bersyukur, cukup damai, cukup tulus, cukup tahu arah pulang, tanpa harus menginjak yang lain demi Kursi Emas dan Kursi Berduri. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

