Bung Kale Ludji : ’Ketua IV Majelis Sinode GPIB yang nanti terpilih diharapkan dapat merumuskan apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki oleh GPIB‘
Jakarta, gpibwatch.id – Siapapun yang terpilih dan duduk di posisi Ketua IV Majelis Sinode GPIB, 2025 – 2030 akan memikul tanggung jawab yang sangat besar, karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan dan dikerjakan.
Sebagai Ekonom tingkat sinodal, pasti punya cara pandang dan gagasan serta ide untuk membawa GPIB lebih baik kedepan, utamanya dalam memberdayakan aset – aset GPIB yang begitu banyak terbengkalai untuk segera ditangani agar dapat berdaya guna dan berhasil guna.
Sinergisitas sangat diperlukan di lingkup internal dan membuka kerjasama dengan eksternal agar apa yang akan direncanakan dapat terlaksana dan terwujud, karena tentunya tak mudah mengurus bidang pembangunan ekonomi gereja yang didalamnya mencakup pengelolaan aset, daya dan dana dan pengembangan ekonomi warga jemaat.
Dan sebagai Ketua IV MS. GPIB – XXII diupayakan mereka yang mempunyai wawasan berpikir yang excellent dan punya networking yang luas dengan denominasi di luar GPIB dan punya relevansi yang baik dengan pemerintah dan swasta yang semuanya bertujuan untuk kerjasama dan mendatangkan dana yang berfungsi menopang ekonomi gereja.
Mari simak apa yang dikatakan Bung Kale Ludji yang setuju kalau sosok yang memangku jabatan Ketua IV adalah figur yang berlatar belakang pengusaha. “Setuju dengan wacana figur yang memiliki latar belakang sebagai wirausaha,” tandas Bung Kale kepada Frans S. Pong dari GPIB Watch.
Mengenai Calon Ketua IV MS. GPIB – XXII, kiranya Ketua IV Majelis Sinode GPIB yang nanti terpilih diharapkan dapat juga merumuskan apa yang menjadi kekuatan, strength yang dimiliki oleh GPIB.
Kemudian dapat mengkonversi strength tersebut menjadi benefit bagi Pembangunan Ekonomi Gereja – GPIB dan tidak jadi masalah dengan adanya wacana figur yang memiliki latar belakang sebagai seorang wirausaha.
Pemikiran ini didasarkan pada Visi Indonesia yang menuju Indonesia Emas – 2045 dan GPIB selaku organisasi keagamaan yang besar, sebaiknya in line atau sejalan dengan visi ini.
Dan berbicara tentang program yang ada di Departemen PEG – GPIB , khususnya bidang daya dan dana, diperlukan modernisasi dalam lima tahun ke depan, dimana cara penggalangan dana yang dilakukan masih dengan cara – cara konvensional yang berbasis proposal.
Namun cara tesebut tidak berarti harus ditinggalkan, melainkan perlu adanya langkah baru sebagai penopang kegiatan penggalangan dana, dan cara baru sebenarnya sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya yaitu program BOT di Yogyakarta dan program pemberdayaan aset yang rencananya akan dikelola oleh PT. GPIB. JP/Fsp

